Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

JANGAN BELI OWA JAWA!

  • Jumat, 14 Maret 2014 13:50
  • Terakhir Diupdate ( Senin, 17 Maret 2014 14:11 )
  • Oleh Administrator

 

Pernahkah Anda melihat iklan semacam ini? Bantulah hewan-hewan tersebut dengan TIDAK MEMBELINYA! Karena dengan membelinya maka tanpa disadari Anda telah memberikan kesempatan kepada para pemburunya untuk kembali ke hutan dan berburu lagi. Mari bersama kita akhiri perburuan hewan liar dengan cara:

  1. Tidak membeli hewan-hewan liar, meskipun merasa kasihan melihatnya
  2. Menyarankan kepada pemiliknya untuk menyerahkan hewan-hewan liar peliharaan mereka  secara sukarela
  3. Melaporkan kepada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam terdekat atau menghubungi organisasi-organisasi penyelamat satwa di kota Anda

TAHUKAH ANDA?

  1. Owa Jawa adalah satwa liar endemik Pulau Jawa yang hanya hidup di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah dengan populasi yang kecil dan oleh karenanya berada dalam status TERANCAM PUNAH. Sifat mereka yang monogami dan jarak kelahiran anak yang panjang (3 sampai 3,5 tahun) menjadikan pertumbuhan populasinya terjadi secara lambat.
  2. Owa Jawa adalah jenis primata yang memiliki penyakit-penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia ataupun sebaliknya (disebut penyakit zoonosis). Browsing saja “nonhuman primates zoonoses” di sana akan muncul berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, ataupun parasit. Cara penularannya pun sangat mudah terjadi saat kontak dengan hewan ini. Tak hanya Anda sendiri yang berpotensi tertular dan menularkan penyakit-penyakit tersebut, tapi demikian juga dengan keluarga Anda di rumah. Maka dari itu, BIJAKSANALAH DALAM MEMILIH HEWAN PELIHARAAN.
  3. Mengambil bayi (atau anak) Owa Jawa dari alam berarti membunuh 1 keluarga (yang bisa terdiri dari 4 atau 5 individu). Mengapa demikian? Karena Owa Jawa adalah hewan monogami, artinya mereka setia pada pasangannya dan mereka sangat menjaga keutuhan keluarganya. Kebanyakan pemburu mengincar bayi yang berada dalam gendongan sang Ibu, dengan demikian untuk mengambil bayi tersebut maka sang Ibu harus dibunuh. Sang Ayah terkadang akan memberikan perlawanan yang juga bisa menyebabkan kematian dirinya. Atau jikapun ia berhasil menyelamatkan diri bersama 1 atau 2 anaknya yang lain, mereka akan merasa amat kehilangan sang Ibu dan adiknya. Stres yang berlebihan dan berkepanjangan tak jarang (bahkan selalu) membuat mereka mati. Dapat disimpulkan bahwa MENGAMBIL 1 BAYI OWA JAWA DARI ALAM SAMA DENGAN MEMBUNUH 3 ATAU 4 ANGGOTA KELUARGANYA.
  4. Owa Jawa adalah sejenis kera yang hidup di bagian atas pohon dengan pakan utama berupa buah-buahan. Mereka adalah penanam terbaik di hutan. Bagaimana tidak, saat memakan buah-buah hutan yang ranum terkadang ada biji-bijinya yang terjatuh ke tanah. Selain itu, jika biji-biji tersebut termakan dan tidak dapat tercerna oleh saluran pencernaan si Owa Jawa maka akan dikeluarkan melalui kotorannya. Kotoran tersebut berfungsi sebagai penyubur yang juga mempercepat pertumbuhan biji menjadi tanaman. HUTAN JELAS TIDAK MEMERLUKAN MANUSIA, NAMUN SEBALIKNYA, MANUSIA SANGAT JELAS MEMERLUKAN HUTAN.

Jadi biarkanlah Owa Jawa hidup bebas dan jangan berikan kesempatan kepada mereka yang ingin merusak keseimbangan alam ini. Mari bersama kita LESTARIKAN OWA JAWA!

  • PDF
  • Cetak

Keluarga Harmonis Siap Meramaikan Hutan Lindung Gunung Puntang

  • Rabu, 12 Maret 2014 14:06
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 12 Maret 2014 14:50 )
  • Oleh Administrator

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang berturut-turut dilepasliarkan pada 16 Oktober 2009 dan 15 Juni 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Ini adalah kali pertama pelepasliaran sebuah keluarga owa jawa. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan. Kedua anak mereka, Yani dan Yudi, terlahir di Javan Gibbon Center (JGC).

Keluarga Jowo dan Bombom (kiri ke kanan: Yani, Jowo, Bombom, dan Yudi)

 

Bersama menghangatkan tubuh dengan sinar matahari pagi

Yani (kanan) sedang menelisik tubuh sang ayah, Jowo (kiri)

Si kecil Yudi beraksi berjalan bipedal pada ranting pohon

Jowo dan Bombom menjadi penghuni JGC sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya kini diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

MARI BERSAMA KITA JAGA KELESTARIAN MEREKA!!

Setelah pasangan Echi-Septa dan Sadewa-Kiki yang dilepasliarkan pada 2009 dan 2013, kini giliran sebuah keluarga owa jawa harmonis yang terdiri dari 4 individu. Sang Ayah bernama Jowo, sang Ibu bernama Bombom, kemudian Yani adalah anak pertama mereka yang berumur 3 tahun 8 bulan dan Yudi yang masih berumur 9 bulan.

Jowo dan Bombom menjadi penghuni Javan Gibbon Center (JGC) sejak 13 April 2008 yang ditranslokasi dari KONUS, Bandung. Tidak sampai 2 bulan kemudian mereka saling dikenalkan satu sama lain dan menjadi pasangan tetap sejak 1 Juni 2008. Keduanya diperkirakan berumur sekitar 15 tahun. Yani, anak pertama dari pasangan ini, lahir pada 21 Juli 2010 sedangkan Yudi terlahir pada 7 Juni 2013, hampir 3 tahun setelah kelahiran Yani.

Pengamatan perilaku dan aktivitas harian dari keluarga ini terus dilakukan dan ternyata mereka telah memenuhi kriteria-kriteria pelepasliaran. Oleh karenanya persiapan pelepasliaran kembali dilakukan di Gunung Puntang yang merupakan kawasan hutan lindung dibawah pengelolaan Perum Perhutani di kawasan Bandung Selatan pada bulan Desember 2013 lalu dengan membangun sebuah kandang habituasi pada ketinggian ±1700 meter dpl.

Kesiapan terhadap hewan juga terus dilakukan dengan menjaga serta meningkatkan kondisi kesehatannya hingga akhirnya hewan ditranslokasi dari fasilitas rehabilitasi JGC di Bogor menuju ke kandang habituasi di Bandung pada tanggal 26 Februari 2014 lalu. Kini keluarga Jowo dan Bombom tengah menjalani masa adaptasi menuju pelepasliaran yang direncanakan pada 27 Maret 2014 mendatang. Sapaan keluarga ini di pagi hari selalu terdengar melalui nyanyian “morning call”.

 

  • PDF
  • Cetak

Devi, Owa yang Menderita Akibat Ulah Manusia

  • Jumat, 14 Februari 2014 15:06
  • Oleh Administrator

Lucu wajahnya membuat sebagian orang ingin memiliki salah satu hewan endemik Pulau Jawa ini, kadang tak peduli (meskipun mengetahui) bahwa hewan liar ini adalah satwa terancam punah dengan status dilindungi Undang-Undang. Devi, adalah salah satu owa jawa yang malang nasibnya. Setelah dipelihara selama 5 tahun, akhirnya owa betina remaja ini diserahkan secara sukarela pada tanggal 5 November 2013 lalu.

Pada hari-hari pertamanya di Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Owa Jawa (Javan Gibbon Center) Devi menjalani serangkaian pemeriksaan fisik dan medis. Dari pemeriksaan tersebut ditemukanlah kondisi sebagai berikut:

  1. Kondisi tubuh sangat kurus (malnutrisi) akibat kekurangan serta ketidakseimbangan asupan gizinya.
  2. Semua gigi taringnya (4 buah, terdiri dari 2 taring atas dan 2 taring bawah) diratakan dengan gigi serinya dan bahkan gigi serinya pun ikut dikikir karena pemilik takut jika hewan ini menggigitnya.
  3. Pergelangan tangan kiri dan kanannya sebelumnya pernah mengalami patah tulang, sehingga sangat membatasi pergerakannya. Kemungkinan besar akibat rantai yang dipasang pada kedua persendian pergelangan tangannya.
  4. Kualitas tulang paha yang buruk (rapuh), sebagai dampak kekurangan asupan gizi yang berkepanjangan dan kurangnya paparan sinar matahari pagi yang dapat membantu proses pembentukan tulang terutama saat usia pertumbuhan.
  5. Menderita penyakit epilepsi sehingga seringkali tubuhnya kejang-kejang yang didahului dengan suara teriakan yang keras dan disertai kondisi mulut yang berbusa. Epilepsi bisa disebabkan oleh benturan pada kepala yang mengakibatkan kerusakan fungsi syaraf pusat.

Hasil pemeriksaan tersebut berujung pada kesimpulan bahwa Devi tak dapat diliarkan kembali dan ia harus menjalani sisa hidupnya di Javan Gibbon Center. Ini adalah suatu pelajaran yang harusnya menjadi pengingat manusia. Mereka adalah makhluk hidup yang juga berhak untuk hidup bebas. Mari bersama kita jaga keberadaan mereka sebagai kekayaan hayati alam Indonesia.

Halaman 1 dari 9