Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Irma : Kisah Sedih bayi Owa Korban Keegoisan Manusia Tidak Bertanggung jawab

  • Kamis, 03 Desember 2015 13:41
  • Terakhir Diupdate ( Jumat, 04 Desember 2015 08:36 )
  • Oleh Administrator

Mari berkenalan dengan Irma, bayi owa Jawa betina yang baru saja menjadi anggota baru di keluarga besar Javan Gibbon Centre (JGC). Usianya kurang dari 1 tahun dan layaknya bayi pada umumnya tentu tempat terbaik bagi Irma adalah bersama ibu dan ayahnya. Namun apa daya, karena kecerobohan dan keegoisan manusia-manusia tidak bertanggungjawab, kini Irma harus hidup tanpa orangtuanya.

Irma, 2 minggu setelah kedatangan

Tepatnya pada senin malam, 9 November 2015, JGC menerima informasi bahwa sepasang bayi owa Jawa (Hylobates moloch) akan diserahkan ke JGC. Pada pukul 22.50 WIB, Irma pun tiba di Lido bersama 1 bayi owa lainnya berjenis kelamin jantan. Sayangnya, bayi owa jantan itu tiba dalam keadaan tak bernyawa. Tidak mendapat asupan gizi yang memadai karena dipisahkan dari ibunya, usia yang terlalu muda dan perilaku ekstrim yang diterima dalam upaya penyelundupan menjadi pemicu rentannya kondisi bayi owa tersebut.

Irma dan bayi owa jantan setelah pengamanan di bandara

Kisah sedih Irma dan bayi jantan yang tidak dapat diselamatkan itu berawal pada tanggal 7 November 2015, saat keduanya hendak diselundupkan oleh seorang WNA asal Kuwait ke negara asalnya melalui penerbangan internasional banda Soekarno-Hatta. Dibeli di pasar Pramuka, pelaku kemudian mencoba menyelundupkan keduanya dengan mengikat mereka di betis kiri dan kanan. Beruntung, tindak kriminal itu dapat dihentikan oleh pihak berwenang, meskipun pada akhirnya hanya Irma yang berhasil selamat.

Kisah bergabungnya Irma dengan JGC, bisa dikatakan sebagai salah satu kisah paling sedih JGC dalam upaya merehabilitasi owa Jawa. Lihat saja wajah lugunya yang sarat dengan kesedihan, siapa pun yang masih memiliki nurani pasti akan iba melihatnya. Jelas, Irma adalah korban. Dan Irma bukanlah korban satu-satunya.

Irma, beberapa jam setelah kedatangan

Perburuan satwa liar dilindungi ternyata memang masih marak dilakukan di masyarakat. Kurangnya kesadaran akan pentingnya eksistensi keragaman fauna di alam menjadi salah satu faktor utama hal tersebut. Berbagai alasan muncul sebagai pembenaran aksi tidak bertanggungjawab itu, misalnya faktor ekonomi. Para pemburu maupun penjual akan memberikan dalih bahwa tindakan mereka hanyalah sebatas upaya menghasilkan lembar-lembar rupiah untuk bertahan hidup.

Irma, 2 minggu setelah kedatangan

Tidak terpikir bahwa yang mereka lakukan adalah serangkaian pemusnahan secara bertahap spesies yang mungkin hanya tersisa beberapa ribu individu saja di dunia. Tidak sadar bahwa tindakan itu akan menghasilkan efek domino yang berujung pada penghancuran planet bumi yang kita tempati. Karena setiap spesies yang menempati hutan memiliki fungsi masing-masing untuk menjaga kelestarian hutan. Contohnya owa Jawa, siapa sangka ternyata mereka berperan penting dalam proses penghijauan kembali hutan. Owa Jawa membantu menyebarkan biji-bijian sisa buah yang mereka makan ke tanah yang kemudian akan tumbuh menjadi pohon baru di masa depan.

Maka, sadarkah kita, ketika beberapa spesies langka di alam punah, manusia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembalikannya ke dunia? Para pemburu satwa liar, penjual maupun pembelinya tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah jual beli yang tidak sepadan. Harga yang harus mereka bayar lebih dari sejumlah uang yang mereka tukarkan. Mereka sedang merenggut masa depan para penerus bangsa.

Jika kita rela mengorbankan pentingnya masa depan anak cucu kita hanya demi pundi-pundi kekayaan, pantaskah kita disebut manusia yang berakal? (dns)

  • PDF
  • Cetak

PRESIDEN JOKOWI MEMBERI NAMA BAYI OWA JAWA YANG LAHIR DI JGC-TNGGP

  • Selasa, 05 Mei 2015 14:52
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 05 Mei 2015 15:09 )
  • Oleh Administrator

Seiring dengan prosesi pelepasliaran owa jawa di acara perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung pada tanggal 24 April 2015,  Presiden Joko Widodo dengan didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan memberikan nama ASRI pada bayi owa jawa berkelamin betina yang lahir pada tanggal 9 Februari 2015 di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

ASRI yang merupakan singkatan dari Asia-Afrika, lahir dalam keadaan sehat dari pasangan owa jawa yang bernama Mel (jantan) dan Pooh (betina). Kelahiran owa jawa di Javan Gibbon Center ini merupakan kelahiran yang ke empat selama kurun waktu 2010-2015. Keberhasilan pasangan-pasangan owa jawa untuk mendapatkan keturunan dapat membuka peluang keberhasilan pelepasliaran owa jawa ke habitat alami dalam satu unit keluarga.

  • PDF
  • Cetak

Para Pejuang Owa Jawa

  • Rabu, 29 April 2015 11:21
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 29 April 2015 12:24 )
  • Oleh Administrator

Program konservasi Owa jawa melibatkan multi pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Para pejuang konservasi kami adalah mereka yang senantiasa berada di lapangan untuk memantau keberadaan Owa-owa jawa terehabilitasi yang sedang dalam proses atau telah dilepasliarkan kembali ke alam.  Adalah Gibbon Monitoring Unit (GMU) dan Gibbon Protection Unit (GPU) yang dibentuk sebagai  suatu elemen penting dalam mengawal kesuksesan program reintroduksi (lepasliar) pasangan atau keluarga Owa jawa terehabilitasi di Gn. Puntang; kawasan hutan lindung Gn. Malabar, Bandung.

Gambar 1. Gibbon Monitoring Unit dan Gibbon Protection Unit

Gibbon Monitoring Unit dibentuk sejak pertengahan tahun 2013, ketika pasangan Sadewa dan Kiki menjadi pasangan Owa jawa pertama yang menjalani masa habituasi di Gn. Puntang. Seluruh anggota tim tak hentinya memasang mata mereka untuk terus mengamati keadaan serta perilaku harian Owa jawa yang dituangkan dalam kumpulan catatan harian. Bukan dalam hitungan 1 atau 2 hari saja, namun telah menjadi kegiatan keseharian anggota tim GMU mulai saat owa menjalani masa habituasi hingga setelah owa tersebut dilepasliarkan. Pergerakan owa hari demi hari terus diikuti, mulai terbit matahari saat Owa jawa mulai beraktivitas hingga sore hari saat mereka berdiam untuk istirahat di pohon tidur

.

Gambar 2. Salah seorang anggota GMU sedang melakukan pengamatan

Gibbon Protection Unit dibentuk pada 27 Maret 2014, bertepatan dengan pelepasliaran ke-2 yaitu Jowo, Bombom, dan kedua anaknya Yani dan Yudi.  Sebagai tim penyokong GMU, GPU bertugas untuk menjaga kawasan sekitar pelepasliaran dari aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan ekosistem. Selain itu, GPU juga berperan aktif melalui edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tim GPU juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki kerusakan-kerusakan hutan, mencegah perburuan satwa liar dan perambahan, serta memberi solusi cara terbaik bercocok tanam tanpa merusak hutan.

Gambar 3. Anggota GPU sedang memasang camera trap dan melakukan patroli sekaligus opsih

Gambar 4. Pembinaan masyarakat setempat dalam restorasi hutan sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat dengan cara yang bijaksana

Dedikasi yang luar biasa dari Gibbon Monitoring Unit dan Gibbon Protection Unit menunjukkan komitmen kuat kami bersama masyarakat  dalam mengembalikan, menjaga dan meningkatkan populasi Owa jawa yang merupakan petani terbaik di habitat alaminya. Dengan demikian diharapkan kualitas hutan-hutan di Jawa Barat semakin meningkat dan dapat terus menopang kehidupan kita hari ini, esok dan nanti.

Halaman 1 dari 11