Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Anggota Keluarga Baru JGC : Mimis dan Bonte

  • Selasa, 03 Mei 2016 14:07
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 03 Mei 2016 15:11 )
  • Oleh dns

Tahun 2016 menjadi tahun yang penuh semangat bagi Yayasan Owa Jawa. Selain karena agenda yang cukup padat di tahun ini, YOJ juga mendapatkan 2 anggota keluarga baru. Mimis, seekor owa Jantan dewasa yang berasal dari daerah Banjaran, Bandung, dan Bonte, owa jantan remaja yang berasal dari Tegal. Keduanya tiba di JGC pada 20 dan 31 Januari lalu.

Mimis, di kandang karantina beberapa saat setelah tiba di JGC.

Selama 1.5 bulan keduanya harus melalui proses karantina untuk kemudian dapat melalui tahap rehabilitasi selanjutnya. Kini, Mimis berada di kandang introduksi dengan Galagah, salah satu owa betina JGC. Sedangkan Bonte yang masih remaja, sedang belajar untuk menjadi liar kembali di kandang sosialisasi.

Sebelum bergabung dengan JGC, Mimis menghabiskan hari-harinya dalam keadaan dirantai di pohon. Sementara Bonte, harus terkungkung dalam sempitnya kandang di pinggiran Jalan di kota Tegal. Beruntung, orang yang memelihara mereka akhirnya tersadar untuk menyerahkan keduanya ke pusat rehabilitasi. Javan Gibbon Center pun menerima kehadiran mereka dengan sukacita.

Mimis, sebelum dijemput tim, terikat rantai di pohon di area pemukiman warga.

Kedatangan kedua owa jantan itu menimbulkan kesan yang beragam bagi YOJ. Awalnya rasa bahagia yang mendominasi, karena penyerahan sukarela dari masyarakat ini menjadi bukti konkrit bahwa edukasi yang dilakukan selama ini mulai membuahkan hasil. Karena YOJ percaya, salah satu jalan terefektif untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pelestarian owa Jawa adalah melalui edukasi. Dimana informasi yang didapatkan oleh masyarakat dapat terus disebarkan ke semua kalangan hingga tidak ada lagi masyarakat yang berniat untuk memelihara owa Jawa sebagai binatang peliharaan. Namun tidak dapat dipungkiri kenyataan bahwa masih ada masyarakat yang memelihara owa Jawa makin menyadarkan YOJ, bahwa PR YOJ masih sangatlah banyak.

Bonte, sebelum diserahkan ke JGC, menghabiskan hari-harinya di kandang dalam keadaan dirantai.

Edukasi harus terus dilakukan, sebagai salah satu upaya untuk memberantas masalah jual-beli satwa dilindungi dari akarnya. Tentu penjual tidak akan mempertahankan komoditinya jika tidak ada pembeli, bukan? Melalui program Program Mobil Unit Konservasi Moli dan Telsi dan juga bioskop alam, YOJ pun berusaha menularkan dan menumbuhkan rasa cinta terhadap owa Jawa dan hutan kepada masyarakat. Mengedukasi tentang pentingnya peran owa Jawa terhadap kondisi hutan serta peran penting hutan untuk kehidupan manusia itu sendiri. Perlahan tapi pasti kesadaran masyarakat akan terus tumbuh dan membuahkan hasil yang manis, sehingga tidak akan ada kisah seperti Mimis dan Bonte yang lain.

Bonte yang begitu dekat dengan pemiliknya dapat menyebabkan proses rehabilitasi menjadi lebih sulit.

Mari cintai owa jawa dengan membiarkan mereka hidup tentram di habitatnya. Merantai mereka dalam sempitnya kandang tidak akan memberi manfaat apa-apa bagi kita manusia selain menunjukkan ketidakpedulian kita terhadap eksistensi mereka. Jika sudah terlanjur memelihara, maka tidak pernah ada kata terlambat untuk melakuka hal yang benar. Serahkan owa Jawa atau pun satwa dilindungi lainnya ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat atau pusat rehabilitasi satwa. Beri mereka kesempatan kedua untuk kembali menjadi diri mereka yang sesungguhnya. Mari mulai menanamkan pemahaman itu, mulai dari diri sendiri, mulai saat ini. Selamat menjadi pecinta!

  • PDF
  • Cetak

Irma : Kisah Sedih bayi Owa Korban Keegoisan Manusia Tidak Bertanggung jawab

  • Kamis, 03 Desember 2015 13:41
  • Terakhir Diupdate ( Jumat, 04 Desember 2015 08:36 )
  • Oleh Administrator

Mari berkenalan dengan Irma, bayi owa Jawa betina yang baru saja menjadi anggota baru di keluarga besar Javan Gibbon Centre (JGC). Usianya kurang dari 1 tahun dan layaknya bayi pada umumnya tentu tempat terbaik bagi Irma adalah bersama ibu dan ayahnya. Namun apa daya, karena kecerobohan dan keegoisan manusia-manusia tidak bertanggungjawab, kini Irma harus hidup tanpa orangtuanya.

Irma, 2 minggu setelah kedatangan

Tepatnya pada senin malam, 9 November 2015, JGC menerima informasi bahwa sepasang bayi owa Jawa (Hylobates moloch) akan diserahkan ke JGC. Pada pukul 22.50 WIB, Irma pun tiba di Lido bersama 1 bayi owa lainnya berjenis kelamin jantan. Sayangnya, bayi owa jantan itu tiba dalam keadaan tak bernyawa. Tidak mendapat asupan gizi yang memadai karena dipisahkan dari ibunya, usia yang terlalu muda dan perilaku ekstrim yang diterima dalam upaya penyelundupan menjadi pemicu rentannya kondisi bayi owa tersebut.

Irma dan bayi owa jantan setelah pengamanan di bandara

Kisah sedih Irma dan bayi jantan yang tidak dapat diselamatkan itu berawal pada tanggal 7 November 2015, saat keduanya hendak diselundupkan oleh seorang WNA asal Kuwait ke negara asalnya melalui penerbangan internasional banda Soekarno-Hatta. Dibeli di pasar Pramuka, pelaku kemudian mencoba menyelundupkan keduanya dengan mengikat mereka di betis kiri dan kanan. Beruntung, tindak kriminal itu dapat dihentikan oleh pihak berwenang, meskipun pada akhirnya hanya Irma yang berhasil selamat.

Kisah bergabungnya Irma dengan JGC, bisa dikatakan sebagai salah satu kisah paling sedih JGC dalam upaya merehabilitasi owa Jawa. Lihat saja wajah lugunya yang sarat dengan kesedihan, siapa pun yang masih memiliki nurani pasti akan iba melihatnya. Jelas, Irma adalah korban. Dan Irma bukanlah korban satu-satunya.

Irma, beberapa jam setelah kedatangan

Perburuan satwa liar dilindungi ternyata memang masih marak dilakukan di masyarakat. Kurangnya kesadaran akan pentingnya eksistensi keragaman fauna di alam menjadi salah satu faktor utama hal tersebut. Berbagai alasan muncul sebagai pembenaran aksi tidak bertanggungjawab itu, misalnya faktor ekonomi. Para pemburu maupun penjual akan memberikan dalih bahwa tindakan mereka hanyalah sebatas upaya menghasilkan lembar-lembar rupiah untuk bertahan hidup.

Irma, 2 minggu setelah kedatangan

Tidak terpikir bahwa yang mereka lakukan adalah serangkaian pemusnahan secara bertahap spesies yang mungkin hanya tersisa beberapa ribu individu saja di dunia. Tidak sadar bahwa tindakan itu akan menghasilkan efek domino yang berujung pada penghancuran planet bumi yang kita tempati. Karena setiap spesies yang menempati hutan memiliki fungsi masing-masing untuk menjaga kelestarian hutan. Contohnya owa Jawa, siapa sangka ternyata mereka berperan penting dalam proses penghijauan kembali hutan. Owa Jawa membantu menyebarkan biji-bijian sisa buah yang mereka makan ke tanah yang kemudian akan tumbuh menjadi pohon baru di masa depan.

Maka, sadarkah kita, ketika beberapa spesies langka di alam punah, manusia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengembalikannya ke dunia? Para pemburu satwa liar, penjual maupun pembelinya tidak sadar bahwa yang mereka lakukan adalah jual beli yang tidak sepadan. Harga yang harus mereka bayar lebih dari sejumlah uang yang mereka tukarkan. Mereka sedang merenggut masa depan para penerus bangsa.

Jika kita rela mengorbankan pentingnya masa depan anak cucu kita hanya demi pundi-pundi kekayaan, pantaskah kita disebut manusia yang berakal? (dns)

  • PDF
  • Cetak

PRESIDEN JOKOWI MEMBERI NAMA BAYI OWA JAWA YANG LAHIR DI JGC-TNGGP

  • Selasa, 05 Mei 2015 14:52
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 05 Mei 2015 15:09 )
  • Oleh Administrator

Seiring dengan prosesi pelepasliaran owa jawa di acara perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung pada tanggal 24 April 2015,  Presiden Joko Widodo dengan didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan memberikan nama ASRI pada bayi owa jawa berkelamin betina yang lahir pada tanggal 9 Februari 2015 di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

ASRI yang merupakan singkatan dari Asia-Afrika, lahir dalam keadaan sehat dari pasangan owa jawa yang bernama Mel (jantan) dan Pooh (betina). Kelahiran owa jawa di Javan Gibbon Center ini merupakan kelahiran yang ke empat selama kurun waktu 2010-2015. Keberhasilan pasangan-pasangan owa jawa untuk mendapatkan keturunan dapat membuka peluang keberhasilan pelepasliaran owa jawa ke habitat alami dalam satu unit keluarga.

Halaman 1 dari 11