Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

PRESIDEN JOKOWI MEMBERI NAMA BAYI OWA JAWA YANG LAHIR DI JGC-TNGGP

  • Selasa, 05 Mei 2015 14:52
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 05 Mei 2015 15:09 )
  • Oleh Administrator

Seiring dengan prosesi pelepasliaran owa jawa di acara perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung pada tanggal 24 April 2015,  Presiden Joko Widodo dengan didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan memberikan nama ASRI pada bayi owa jawa berkelamin betina yang lahir pada tanggal 9 Februari 2015 di Javan Gibbon Center, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

ASRI yang merupakan singkatan dari Asia-Afrika, lahir dalam keadaan sehat dari pasangan owa jawa yang bernama Mel (jantan) dan Pooh (betina). Kelahiran owa jawa di Javan Gibbon Center ini merupakan kelahiran yang ke empat selama kurun waktu 2010-2015. Keberhasilan pasangan-pasangan owa jawa untuk mendapatkan keturunan dapat membuka peluang keberhasilan pelepasliaran owa jawa ke habitat alami dalam satu unit keluarga.

  • PDF
  • Cetak

Para Pejuang Owa Jawa

  • Rabu, 29 April 2015 11:21
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 29 April 2015 12:24 )
  • Oleh Administrator

Program konservasi Owa jawa melibatkan multi pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Para pejuang konservasi kami adalah mereka yang senantiasa berada di lapangan untuk memantau keberadaan Owa-owa jawa terehabilitasi yang sedang dalam proses atau telah dilepasliarkan kembali ke alam.  Adalah Gibbon Monitoring Unit (GMU) dan Gibbon Protection Unit (GPU) yang dibentuk sebagai  suatu elemen penting dalam mengawal kesuksesan program reintroduksi (lepasliar) pasangan atau keluarga Owa jawa terehabilitasi di Gn. Puntang; kawasan hutan lindung Gn. Malabar, Bandung.

Gambar 1. Gibbon Monitoring Unit dan Gibbon Protection Unit

Gibbon Monitoring Unit dibentuk sejak pertengahan tahun 2013, ketika pasangan Sadewa dan Kiki menjadi pasangan Owa jawa pertama yang menjalani masa habituasi di Gn. Puntang. Seluruh anggota tim tak hentinya memasang mata mereka untuk terus mengamati keadaan serta perilaku harian Owa jawa yang dituangkan dalam kumpulan catatan harian. Bukan dalam hitungan 1 atau 2 hari saja, namun telah menjadi kegiatan keseharian anggota tim GMU mulai saat owa menjalani masa habituasi hingga setelah owa tersebut dilepasliarkan. Pergerakan owa hari demi hari terus diikuti, mulai terbit matahari saat Owa jawa mulai beraktivitas hingga sore hari saat mereka berdiam untuk istirahat di pohon tidur

.

Gambar 2. Salah seorang anggota GMU sedang melakukan pengamatan

Gibbon Protection Unit dibentuk pada 27 Maret 2014, bertepatan dengan pelepasliaran ke-2 yaitu Jowo, Bombom, dan kedua anaknya Yani dan Yudi.  Sebagai tim penyokong GMU, GPU bertugas untuk menjaga kawasan sekitar pelepasliaran dari aktivitas manusia yang menyebabkan kerusakan ekosistem. Selain itu, GPU juga berperan aktif melalui edukasi kepada masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, tim GPU juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki kerusakan-kerusakan hutan, mencegah perburuan satwa liar dan perambahan, serta memberi solusi cara terbaik bercocok tanam tanpa merusak hutan.

Gambar 3. Anggota GPU sedang memasang camera trap dan melakukan patroli sekaligus opsih

Gambar 4. Pembinaan masyarakat setempat dalam restorasi hutan sekaligus pengembangan ekonomi masyarakat dengan cara yang bijaksana

Dedikasi yang luar biasa dari Gibbon Monitoring Unit dan Gibbon Protection Unit menunjukkan komitmen kuat kami bersama masyarakat  dalam mengembalikan, menjaga dan meningkatkan populasi Owa jawa yang merupakan petani terbaik di habitat alaminya. Dengan demikian diharapkan kualitas hutan-hutan di Jawa Barat semakin meningkat dan dapat terus menopang kehidupan kita hari ini, esok dan nanti.

  • PDF
  • Cetak

DUA PASANG OWA JAWA DARI JGC-TNGGP DILEPASLIARKAN OLEH PRESIDEN JOKOWI

  • Selasa, 28 April 2015 09:11
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 28 April 2015 10:34 )
  • Oleh Administrator

Bertepatan dengan perayaan Ulang Tahun Emas KTT-Asia Afrika di Bandung, pada tanggal 24 April 2015 Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan melakukan pelepasliaran owa jawa disaksikan beberapa delegasi peserta KTT di Bandung Jawa Barat. Momen pelepasliaran owa jawa menggambarkan semangat gotong royong negara-negara Asia Afrika untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan, peningkatan kualitas hidup masyarakat, dan penghargaan terhadap keanekaragaman hayati sebagai penyokong kehidupan. Keberhasilan Indonesia melakukan konservasi owa jawa di pulau yang terpadat penduduknya di dunia, merupakan komitmen kuat Indonesia dalam menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Pelepasliaran owa jawa dilakukan melalui liputan langsung (live streaming) dengan teknologi satelit yang dilakukan oleh Presiden Jokowi dari Bandung yang ditandai penekanan tombol tanda dibukanya pintu kandang owa jawa yang ada di gunung puntang.  Sehari sebelumnya, tanggal 23 April 2015, Menteri Lingkungan Hidup dan kehutanan, Siti Nurbaya berkesempatan berkunjung ke lokasi pelepasliaran untuk melihat persiapan rencana pelepasliaran

Pelepasliaran owa jawa kali ini dilakukan untuk dua pasang (empat individu) owa jawa yaitu pasangan Robin-Moni dan pasangan Moli-Nancy. Kedua pasang owa jawa tersebut telah menjalani proses rehabilitasi selama 7-11 tahun di Javan Gibbon Center (JGC), Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.  Sebelum dilepasliarkan, owa jawa telah menjalani proses habituasi lebih kurang 2,5 bulan di lokasi pelepasliaran Gunung Puntang.  Lebih kurang satu tahun yang lalu, satu keluarga owa jawa yang berjumlah empat individu juga telah dilepasliarkan di lokasi hutan yang sama. Kondisi mereka hingga saat ini menunjukkan kemampuan beradaptasinya semakin baik. Hasil positif  tersebut  mencerminkan keberhasilan proses panjang program rehabilitasi di Javan Gibbon Center, yang merupakan program kerjasama berbagai lembaga, antara lain Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango,  Yayasan Owa Jawa, Conservation International Indonesia, Universitas Indonesia dan Silvery Gibbon Project.

Berkurangnya hutan tropis di Jawa, menyebabkan keberadaan owa jawa semakin terancam. Owa jawa masih menjadi target perburuan untuk dijadikan satwa peliharaan. Mengembalikan owa jawa ke hutan dalam keadaan sehat dan bebas penyakit menjadi salah satu upaya untuk memastikan keberlanjutan spesies ini.  Ditjen PHKA, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan dukungan para pihak terus melakukan berbagai upaya demi suksesnya upaya pelestarian owa jawa ke depan. Berbagai kegiatan ilegal seperti perburuan harus segera dihentikan dan satwa-satwa yang telanjur dipelihara oleh masyarakat harus dapat dilepasliarkan kembali melalui proses rehabilitasi. Kepada masyarakat yang memiliki, memelihara atau memperdagangkan satwa primata  tersebut dapat menyerahkan secara sukarela kepada pemerintah melalui Balai KSDA setempat atau langsung kepada pusat rehabilitasi. Memiliki, memelihara maupun memperdagangkan satwa dilindungi tanpa ijin yang berwenang merupakan perbuatan melanggar hukum UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

 

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya menyatakan bahwa dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, owa jawa termasuk jenis satwa yang dilindungi dan merupakan salah satu dari 25 (dua puluh lima) satwa prioritas yang menjadi salah satu target sasaran strategis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada RPJM 2015-2019. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan diharapkan mampu melakukan peningkatan populasi spesies terancam punah sebesar 10% di site monitoring yang ditetapkan sesuai kondisi habitatnya. Para ahli dan peneliti memperkirakan jumlah owa jawa yang hidup saat ini tidak lebih dari 5.000 individu. Kami harap kegiatan pelepasliaran ini dapat membantu meningkatkan populasi owa jawa di alam, dan sekaligus meningkatkan kesadaran kita semua untuk menjaga kelestarian owa jawa”, katanya.

Direktur Utama Perum Perhutani, Mustoha Iskandar mengatakan bahwa konservasi Owa Jawa ini merupakan upaya untuk mempertahankan kualitas kawasan hutan lindung Perum Perhutani karena owa jawa dapat dijadikan indikator kondisi hutan yang sehat dan terjaga baik. ”Sebelumnya, 15 Juni 2013 telah dilepasliarkan sepasang Owa Jawa bernama Kiki dan Sadewa, pada 27 Maret 2014 dilepasliarkan satu keluarga Owa jawa, Bombom (betina), Jowo (jantan) dan anak mereka Yani (betina) dan Yudi (jantan) dan ketiga kalinya hari ini 24 April 2015 ini dilepasliarkan lagi pasangan Robin-Moni dan Moli-Nancy di tempat yang sama. Beberapa kawasan hutan lindung Perum Perhutani juga merupakan habitat owa jawa,  oleh karenanya Perhutani berkomitmen untuk melestarikan owa jawa sekaligus mempertahankan habitatnya. Keterlibatan Perhutani tidak saja penting sebagai pemangku dan pengelola kawasan hutan Gunung Puntang, tetapi juga strategis untuk mengembangkan model bisnis yang berkelanjutan. Selain itu keberhasilan upaya konservasi owa jawa sangat berkaitan dengan dukungan dan peran serta masyarakat setempat” demikian Mustoha menegaskan.

Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Owa Jawa, Noviar Andayani menyatakan bahwa pihaknya sudah melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk program penyelamatan dan rehabilitasi owa jawa.  JGC juga baru saja menyambut kelahiran bayi owa jawa betina pada tanggal 9 Februari 2015 dari pasangan Mel (jantan) dan Pooh (betina). Hingga saat ini JGC telah melepasliarkan 10 individu owa jawa ke habitat alaminya. Upaya mengembalikan  owa jawa ke habitatnya  bukanlah  perkara mudah, oleh sebab itu kemitraan dan dukungan berbagai pihak sangat diperlukan untuk menyelamatkan primata ini dari kepunahan”.

Baca juga beritanya di : http://www.aacc2015.id/?lang=en&p=detrelease&id=38

Halaman 1 dari 10