Yayasan Owa Jawa

  • PDF
  • Cetak

Maral, si mungil pelipur hati

  • Rabu, 25 Februari 2015 15:27
  • Terakhir Diupdate ( Rabu, 25 Februari 2015 15:59 )
  • Oleh Administrator

Kehadiran Maral pada 9 Februari 2015 lalu membuat kehidupan pasangan Mel  dan Pooh semakin sempurna. Kini mereka tak hanya berdua melainkan sudah berkeluarga. Mel, owa jawa berjenis kelamin jantan yang diperkirakan lahir pada tahun 1997 adalah owa hasil sitaan dari Pelabuhan Ratu, Sukabumi  sedangkan Pooh, owa betina yang diperkirakan lahir pada tahun 2000 adalah serahan sukarela dari masyarakat Desa Jampang Kulon.  Keduanya diserahkan oleh Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga kepada Javan Gibbon Center untuk menjalani proses rehabilitasi pada tanggal 28 Januari 2008.

Upaya penjodohan terhadap Mel dan Pooh tidak berlangsung lama. Setelah menjalani masa karantina mulai hari yang sama dengan kedatangan mereka, pada 10 Maret 2008 mereka sudah menempati sebuah kandang pasangan. Dari tahun ke tahun, ikatan pasangan ini semakin meningkat dan sejak awal tahun 2014 mereka mulai menunjukkan kemesraan yang diperlihatkan dengan peningkatan perilaku sosial diantara keduanya. Kegiatan menelisik pasangannya (allogrooming) merupakan salah satu perilaku sosial mereka yang sering teramati.

Kecurigaan terhadap kehamilan Pooh bermula dari pengamatan harian siklus menstruasinya pada bulan November 2014 lalu. Pooh adalah salah satu betina dewasa yang memiliki siklus menstruasi yang teratur, namun di bulan November dan Desember 2014 siklus tersebut tidak teramati. Kecurigaan terhadap kehamilan semakin meningkat dengan makin besarnya perut  Pooh hingga akhirnya pada tanggal 21 Desember 2014 dilakukan pemeriksaan USG untuk memastikan dugaan tersebut.

 

Gambar 1. Hasil USG 21 Desember 2014: jantung janin (atas) dankepala janin (bawah)

Senang sekali rasanya ketika monitor alat USG memperlihatkan janin Pooh yang telah berukuran cukup besar dan dalam kondisi yang sehat. Jantung si janin pun nampak berdenyut-denyut.  Dari hasil USG saat itu, diperkirakan janin dalam kandungan Pooh berusia lebih kurang 5 bulan. Itu berarti kami hanya menunggu 1 atau 2 bulan ke depan hingga bayi itu siap dilahirkan.

 

Gambar 2. Pooh menjelang kelahiran Maral (atas) dan Mel (bawah)

Gambar 3. Pooh dan Maral

Gambar 4. Pooh mengajak Maral berjemur di sinar matahari pagi

Di pagi hari sekitar jam 06.30 WIB  pada tanggal 9 Februari 2015, saat pemberian pakan, salah satu perawat satwa kami mendapati Pooh tengah menyusui bayi mungilnya. Ternyata Pooh telah melahirkan, sepertinya prosesnya belum lama terjadi karena tali pusar sang bayi masih menempel di tubuhnya.  Pooh, sang induk terlihat sangat menyanyangi buah hatinya. Meskipun ini kali pertama Pooh melahirkan seorang anak, namun naluri keibuannya amatlah baik. Perlahan ia belajar untuk membuat bayinya senyaman mungkin berada dalam pelukannya, begitu pula saat ia beraktivitas. Kini Pooh semakin lincah dan tak ragu-ragu untuk membawa bayinya berkeliling kandang, berayun, bahkan melompat sekalipun. Mel sang ayah juga terlihat antusias terhadap kehadiran Maral, sang buah hati. Namun, ia sedikit membatasi diri untuk tidak terlalu mengikuti Pooh dan membiarkannya mengambil makanan yang disiapkan untuknya demi Pooh dan Maral.

  • PDF
  • Cetak

Ketika Owa Jawa Jatuh Cinta

  • Selasa, 07 Oktober 2014 11:27
  • Terakhir Diupdate ( Selasa, 07 Oktober 2014 12:10 )
  • Oleh Administrator

Dikenal sebagai salah satu makhluk yang setia, Owa jawa memang terlihat selalu jatuh cinta dengan pasangannya. Hubungan antar pasangan, seiring dengan waktu akan menjadi sangat dekat.  Hampir sepanjang waktu dihabiskan bersama, mulai pagi hingga tiba waktunya untuk tidur. Tak hanya itu saja, mereka juga saling melindungi satu sama lain. Berikut ini adalah foto-foto perilaku mesra Willie dan Sasa, salah satu pasangan Owa jawa di Javan Gibbon Center:

 

Willie adalah Owa jantan yang lahir pada 29 Juli 2014 sedangkan Sasa diperkirakan lahir tahun 2004. Keduanya dipertemukan di kandang jodoh sejak September 2012 dan sejak itu pula hubungan mereka semakin lama semakin dekat. Kini, mereka memasuki tahun ke-3 kebersamaan, diharapkan akan segera hadir bayi mungil penambah erat ikatan keduanya.

  • PDF
  • Cetak

JANGAN BELI OWA JAWA!

  • Jumat, 14 Maret 2014 13:50
  • Terakhir Diupdate ( Senin, 17 Maret 2014 14:11 )
  • Oleh Administrator

 

Pernahkah Anda melihat iklan semacam ini? Bantulah hewan-hewan tersebut dengan TIDAK MEMBELINYA! Karena dengan membelinya maka tanpa disadari Anda telah memberikan kesempatan kepada para pemburunya untuk kembali ke hutan dan berburu lagi. Mari bersama kita akhiri perburuan hewan liar dengan cara:

  1. Tidak membeli hewan-hewan liar, meskipun merasa kasihan melihatnya
  2. Menyarankan kepada pemiliknya untuk menyerahkan hewan-hewan liar peliharaan mereka  secara sukarela
  3. Melaporkan kepada petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam terdekat atau menghubungi organisasi-organisasi penyelamat satwa di kota Anda

TAHUKAH ANDA?

  1. Owa Jawa adalah satwa liar endemik Pulau Jawa yang hanya hidup di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah dengan populasi yang kecil dan oleh karenanya berada dalam status TERANCAM PUNAH. Sifat mereka yang monogami dan jarak kelahiran anak yang panjang (3 sampai 3,5 tahun) menjadikan pertumbuhan populasinya terjadi secara lambat.
  2. Owa Jawa adalah jenis primata yang memiliki penyakit-penyakit yang dapat ditularkan kepada manusia ataupun sebaliknya (disebut penyakit zoonosis). Browsing saja “nonhuman primates zoonoses” di sana akan muncul berbagai penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, fungi, ataupun parasit. Cara penularannya pun sangat mudah terjadi saat kontak dengan hewan ini. Tak hanya Anda sendiri yang berpotensi tertular dan menularkan penyakit-penyakit tersebut, tapi demikian juga dengan keluarga Anda di rumah. Maka dari itu, BIJAKSANALAH DALAM MEMILIH HEWAN PELIHARAAN.
  3. Mengambil bayi (atau anak) Owa Jawa dari alam berarti membunuh 1 keluarga (yang bisa terdiri dari 4 atau 5 individu). Mengapa demikian? Karena Owa Jawa adalah hewan monogami, artinya mereka setia pada pasangannya dan mereka sangat menjaga keutuhan keluarganya. Kebanyakan pemburu mengincar bayi yang berada dalam gendongan sang Ibu, dengan demikian untuk mengambil bayi tersebut maka sang Ibu harus dibunuh. Sang Ayah terkadang akan memberikan perlawanan yang juga bisa menyebabkan kematian dirinya. Atau jikapun ia berhasil menyelamatkan diri bersama 1 atau 2 anaknya yang lain, mereka akan merasa amat kehilangan sang Ibu dan adiknya. Stres yang berlebihan dan berkepanjangan tak jarang (bahkan selalu) membuat mereka mati. Dapat disimpulkan bahwa MENGAMBIL 1 BAYI OWA JAWA DARI ALAM SAMA DENGAN MEMBUNUH 3 ATAU 4 ANGGOTA KELUARGANYA.
  4. Owa Jawa adalah sejenis kera yang hidup di bagian atas pohon dengan pakan utama berupa buah-buahan. Mereka adalah penanam terbaik di hutan. Bagaimana tidak, saat memakan buah-buah hutan yang ranum terkadang ada biji-bijinya yang terjatuh ke tanah. Selain itu, jika biji-biji tersebut termakan dan tidak dapat tercerna oleh saluran pencernaan si Owa Jawa maka akan dikeluarkan melalui kotorannya. Kotoran tersebut berfungsi sebagai penyubur yang juga mempercepat pertumbuhan biji menjadi tanaman. HUTAN JELAS TIDAK MEMERLUKAN MANUSIA, NAMUN SEBALIKNYA, MANUSIA SANGAT JELAS MEMERLUKAN HUTAN.

Jadi biarkanlah Owa Jawa hidup bebas dan jangan berikan kesempatan kepada mereka yang ingin merusak keseimbangan alam ini. Mari bersama kita LESTARIKAN OWA JAWA!

Halaman 1 dari 9